Jumat, 23 November 2012

JENIS-JENIS VARIETAS BAWANG MERAH


                                                  BAGIAN I.           JENIS-JENIS VARIETAS BAWANG MERAH


VARIETAS BAWANG MERAH
                     
Varietas bawang merah yang ditanam di Indonesia cukup banyak macamnya, tetapi umurnya produksi varietas tersebut masih rendah(kurang dari 10 ton/ha).Beberapa hal yang membedakan varietas bawang merah satu dengan yang lain biasnya didasrkan pada bentuk, ukuran, warna, kekenyalan, aroma umbi, umur tanam, ketahanan terhadap penyakit serta hujan, dan lain-lain.

1.      Bima Brebes
Varietas lokal asal Brebes ini sudah sudah bisa di panen  pada umur 60 hari setelah tanam. Jumlah produksinya tergolong tinggi, yakni mencapai 10 ton/ha umbi kering dengan susut bobot umbi 22 % dari bobot panen basah. Daunnya berwarna hijau, berbentuk silindris, dan berlubang. Umbinya berwarna merah muda, berbentuk lonjong, dan bercincin kecil pada leher cakramnya. Bima Brebes resisten terhadap penyakit busuk umbi

(Bima Brebes)(Botrytis allii), tetapi peka terhadap penyakit busuk daun (Phytophtora porii). Daerah penanamannya lebih cocok di dataran rendah.


2.      Medan

Varietas ini banyak ditanam di daerah Samosir, Sumatera Utara. Umur panennya lebih lama dari Bima Brebes, yakni 70 hari setelah tanam. Jumlah produksi umbi rata-rata 7 ton/ha umbi kering. Susut bobot umbi tergolong tinggi, yakni 25 % dari bobot panen basah. Varietas ini mudah berbunga. Bunganya berwarna putih. daun berbentuk silindris dengan bagian tengah berlubang dan berwarna hijau. Bentuk umbi bulat dengan ujung meruncing dan berwarna merah. Satu rumpun terdiri 6-12 anakan. daerah penanamannya lebih fleksibel, dapat ditanam di datara tinggi maupun rendah. Tanaman ini cukup resisten terhadap penyait busuk umbi, tetapi peka terhadap penyakit busuk ujung daun.

3.      Maja Cipanas

Varietas ini merupakan varietas local asal Cipanas, Cianjur. Umur panennya 60 hari setelah tanam dengan jumlah produksi mencapai 11 ton/ha umbi kering. Susut bobot umbi kering tergolong besar, yakni 25% dari bobot panen basah. Daunnya berwarna hijau tua, berbentuk silindris, dan berlubang. Umbi berwarna merah tua, berbentuk bulat –gepeng, dan berkeriput. Jumlah anakan umbi 6-12 per rumpun. Maja Cipanas cukup resisten terhadap penyakit busuk umbi, tetapi peka terhadap penyakit busuk ujung daun. tanaman ini dapat ditanam di dataran tinggi maupun rendah.

4.      Keling
Varietas lokal ini berasal dari majalengka. Umbinya baru bisa dipanen pada umur 70 hari setelah tanam. Jumlah produksi umbi rata-rata mencapai 8 ton/ha umbi kering. Susut bobot umbi relatif  rendah, yakni 15% dari bobot anen basah. Daunnya berwarna hijau, berbentuk silindris, dan berlubang. Umbi berwarna merah muda. berbentuk bulat-gepeng, dan berkeriput. dalam satu rumpun dapat 7-13 anakan. Pertumbhan varietas keing akan lebih baik bila ditanam di dataran rendah. Varietas ini cukup resisten terhadap penyakit busuk umbi, tetapi peka terhadap penyakit busuk ujung daun.

5.      Ampenan

Daerah asal varietas ini adalah Ampenan, Bali. Umbi dipanen pada umur 70 hari setelah tanam. Produksinya tidak jauh berbeda dengan varietas lainnya, yakni antara 9-12 ton/ha umbi kering. Daunnya berwarna hijau, berbentuk silindris, dan berlubang. Umbinya berwarna merah muda, berbentuk lonjong dengan jumlah anakan dalam satu rumpun lebih dai 10 anakan. Varietas Ampenan resisten terhdap penaykit busuk umbi, tetapi peka terhadap penaykit busuk ujung daun. Selain itu, varietas ini sangat peka terhadap hujan, karena baik ditanam pada musim kemarau.

6.      Sumenep

(Bawang Sumenep)
 
Varietas lokal asal Sumenep. Madura ini mempunyai  ciri yang menonjol sehingga mudah dibedakan dari varietas lainnya. Ciri tersebut sebagai berikut. Umbinya berwarna kuning pucat sampai merah muda kekuning-kuningan pucat dan bergaris-garis halus. Sewaktu masih di lahan umbinya berwarna keputih-putihan. Bentuk umbi bulat panjang. bawang ini banyak       diolah menjadi bawang goring karena hasilnya mempunyai kualitas baik,  tahan kering, dan aromanya sangat digemari.

Varietas Sumenep baru bisa dipanen pada umur 70 hari setelah tanam dengan jumlah produksi tergolong tinggi, yakni rata-rata mencapai 12 ton/ha. Daunnya berwarna hijau dengan bentuk yang lebih besar dibanding varietas lain dan kaku. Dalam satu rumpun terdpat 5-8 anakan. Umbinya tidak tahan bila disimpan lama. Varietas ini lebih peka terhadap penyakit busuk umbi.

7.      Kuning

Varietas ini sudah bisa dipanen pada umur 70 hari setelah tanam. Jumlah produksinya rata-rata 7 ton/ha umbi kering. Daun berwarna hijau tua, berbentuk silindris, dan berlubang. Umbinya berwarna merah merona dan berbentuk bulat besar. Varietas ini paling cocok ditanam pada musim kemarau.

8.      Timor

Varietas ini berasl dari Tinor Timur. Umbinya berbentuk bulat memanjang dan berwarna merah tua. Daunnya berwarna hijau tua, berbentuk silindris, dan berlubang. Umur tanaman berkisar 60-70 hari dengan produksi rata-rata mencapai 9-12 ton/ha. Jumlah anakan dalam satu rumpun 6-12. Varietas ini cukup resisten terhadap penyakit busuk umbi, tetapi peka terhadap penyakit busuk ujung daun.

9.      Lampung 
Varietas lokal asal Lampung ini mempunyai umur panen 60 hari dengan jumlah produksi sedang, sekitar 8-10 ton. Umbinya berwarna merah tua dan berbentuk bulat. Dalam satu rumpun terdapat 10-15 anakan.
10.  Banteng

Varietas Banteng berasal dari daerah Tangerang. Umbinya berwarna merah cemerlang, berbentuk bulat , dan dagingnya kompak. Bawang ini mempunyai aroma yang harum, rasanya lebih manis, dan jika digoreng lebh renyah disbanding varietas lainnya.



11.  Varietas lokal lainnya

Masih terdapat beberapa varietas lokal lain yang ditanam dibeberapa daerah di Indonesia, tetapi jumlahnya tidak terlalu besar. Diantaranya adalah varietas gurgur, sri sakate, bali ijo, jaksana, ashali, betawi, dan jawa.
Varietas gurgur hamir sama dengan maja Cipanas. Hasil produksinya sedang. Umbinya berwarna merah dan berbentuk bulat telur. Umur panennya sekitar 60 hari. Umbi sri sakate berwarna ungu dan berbentuk bulat . Umur panen varietas ini sekitar 60 hari.
Varietas  lainnya seperti bali ijo, jaksana, dan jawa, mempunyai umur panen lebih lama dari kedua varietas di tas, yakni sekitar 80 hari. Sedang varietas ashali bisa dipanen pada umur yang lebih muda, yakni sekitar 50 hari setelah tanam.

 
 Bawang bali ijo. Mempunyai umur panen yang lama, yakni 80 hari.

12. Varietas Impor

Varietas impor yang sudah ditanam di Indonesia adalah Bangkok, Filipina, dan Australia. varietas ini umumnya memiliki sifat-sifat yang lebih unggul dibanding varietas lokal. Beberapa keunggulan varietas bawang merah impor yaitu :
-          memiliki bentuk umbi yang bulat dan berukuran besar dengan warna merah memikat.
-          jumlah anakan umbi banyak,lebih dari 10 anakan.
-          hasil produksinya tinggi, rata-rata mencapai 15 ton umbi kering per hektar.
-          daya simpan lebih tinggi,serta
-          nilai penyusutan dalam pemasaran (ekspor) lebih kecil, sekitar 10% (varietas lokal mencapai 15%).
Bawang merah varietas impor dipanen tidak jauh berbeda dengan varietas local, yaitu 60-70 hari setelah tanam. Akan tetapi, dalam budi dayanya perlu penanganan yang lebih hati-hati karena tanaman masih memerlukan adaptasi dengan kondisi ekologis disekitarnya.
Varietas bawang merah impor yang banyak ditanam di Indonesia terutama di daerah Brebes dan Losari Cirebon, adalah Bangkok dan Filipina. Bibit kedua varietas tersebut bisa didapatkan di dareh tersebut karena sudah dapat dikembangbiakan sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar